19
Mar

Insomnia

Old20man
                      

                                            INSOMNIA

                       Sony Karsono, Kompas, 7 Januari 1996

 

       Empat puluh tahun lalu dalam etalase butik kulihat boneka cantik dari plastik. Ia mengenakan gaun putih pengantin salju. Ia berseru, “Hei! Menikahlah denganku!” Kala itu aku sudah punya ijazah, kerja dan rumah. “Mungkin,” pikirku, “sudah waktunya aku berumah tangga.” Maka, boneka itu kubeli dan kubawa pulang naik taksi. Kami menikah dan punya tiga anak. Karena istriku bijaksana, aku lupa bahwa ia hanya boneka dan bahwa anak-anak kami adalah makhluk separuh boneka separuh manusia.

        Kata handai-tolan (dulu aku pernah punya handai-tolan), kami memang pasangan damai dan setia, seperti suami-istri dalam brosur iklan asuransi jiwa. Aku tak pernah menghardik istriku. Dia tak pernah mengumpat aku. Hari-hari pergi tanpa suara. Rumah selalu tenang, teramat tenang. Tapi pada ulang tahun perkawinan ke-39, kami sadar bahwa semua itu cuma kebiasaan, yang rapi dan saksama, bahkan begitu sempurna hingga kami mati rasa.

       “Kita ini dua pecatur ulung,” ujar istriku pada suatu senja saat kami duduk di beranda menatap kosong pada cangkir kosong dan remah-remah biskuit di atas meja. “Pecatur ulung selalu dingin, waspada, jarang bicara. Bila turnamen berakhir, yang tinggal cuma rahasia.”

        Tiga bulan kemudian dengan sentosa istriku meninggal dunia. Ia menutup wajahnya dengan sapu tangan ungu dan menggumam:

        “Lupakan aku.” Bibirnya goyang di bawah sapu tangan ungu.

        “Ya,” sahutku. Aku berpikir, “Betapa bijaksana istriku!”

       Sayang, anak-anak tak sebijak ibunya. Mereka takut disangka durhaka kalau pada suatu hari nanti aku dibikin gila oleh sepi.

       Dari negeri asing, Simba, Mufasa dan Rafiki masih gencar menelepon, cuma untuk bilang, “Apa kabar, Papa?” Dan surat mereka berjejal di kotak pos, bersama telegram, kartu Lebaran dan ucapan selamat ulang tahun. Tapi aku tak punya tenaga untuk membaca. Maka kubiarkan kertas-kertas itu lembab, menguning, berjamur. Dan aku merasa lega ketika telepon di rumah rusak, karena kabelnya remuk diunggis tikus-tikus. Aku merasa teduh seusai menulis sepucuk surat pamit kepada anak dan cucu.

        Simba, Mufasa dan Rafiki tercinta. Jangan bersurat pada Papa. Jangan pula menelepon. Papa ingin mundur ke dalam sunyi. Seperti sunyi yang kini mendekap Mama. Peluk sayang buat semua cucu. Semoga cepat besar dan pergi ke galaksi di luar Bimasakti. Usah risau akan Papa. Karena, seperti biasa, “Tiada kabar, berarti kabar baik.”

       Duh Gusti! Aku kian tua. Istri pergi. Anak merantau ke tepi benua. Tapi sungguh aku tak kesepian. Aku sehat. Aku kuat. Aku ampuh. Aku riuh. Aku riang. Aku gemilang! Aku… aku resah.

       Aku resah. Bila bangun pagi aku tak sanggup beranjak dari ranjang untuk mematikan weker yang berdering. Aku pun lupa siapa namaku. Aku bagai patung jerami terpaku di tengah sawah, dipatuki burung-burung jelantik. Aku merasa tak pernah hidup. Aku tersedot pusaran mimpi murung tentang rumah tangga, tentang kerja! kerja! kerja! Saat aku terjaga—amboi—semua sudah terlambat. Fajar dan siang telah lenyap digondol gagak-gagak. Dalam temaram senjakala, aku si patung jerami tergolek patah di pematang sawah. Azan magrib berkumandang di kejauhan….

       Ke mana harus kucari, kucuri, diriku yang hilang? Pada bundar kue Marie? Pada perempuan muda di kedai kopi? Atau dalam bilik doa panti wreda?

       Aha! Temui saja Paman Hanafi! Paman Hanafi sang pencinta alam, yang pernah membuang play station-ku ke dalam api tungku. Lalu ditenungnya aku menjadi bocah pengelana: Hanafi kecil! Dibawanya aku ke gunung merenungi pelangi yang terbit dari tirai air terjun. Ditunjukkannya kepadaku kelebat jembalang hutan pada puing-puing candi di lereng Gunung Penanggungan. Ketika haus kami biasa menghisap butir-butir embun di ketiak daun-daun. Kami pernah melihat seekor jalak hitam raksasa terbang memotong bulan di atas rawa. Satu kuntilanak bijak pernah mengajar kami melukis warna mega pada kanvas langit magrib dengan sebatang kuas ilalang.

       “Lekas!” katanya. “Lukis rona mega dengan sapuan darahmu, darahku, darah kita. Agar darah kita, darah rimba, darah mega jadi senyawa!”

       Tapi Paman Hanafi sudah mati. Hutan kami kini sudah gosong terbakar setelah lama dibabati manusia-manusia gergaji. Aku terlalu jompo untuk luntang-lantung ke hutan mana pun. Jantungku teler. Paruku susut. Tulangku segetas kerupuk. Kalaupun nanti aku mati, kuingin mati diam-diam, tanpa onar, tanpa kabar di koran: “Seorang opa ditemukan membeku di belantara….”

        Lebih baik sabar menunggu di ruang tamu. Suatu malam pintu akan diketuk orang. Barangkali akan terjadi adegan ini:

       “Tok…tok…tok…,” terdengar ketukan lirih.

       “Si-siapa?”

       “Aku…dirimu. Aku pulang.”

       Kubuka daun pintu. Sang tamu kupeluk erat. Ia menyelinap ke dalam ragaku. Dan aku kembali menjadi manusia, bukan lagi patung jerami.

       Namun, adegan itu tak pernah terjadi. Tamu itu tak pernah datang. Tidak, aku tak boleh putus asa. Tentu ada lain cara. Tak cukup dengan menanti. Aku harus mengintai, melacak, memburu, dan menangkap diriku yang hilang itu bulat-bulat. Tapi di mana? Di klub karaoke? Tak mungkin! Di lobi bandar udara? Atau di lautan penonton histeris dalam stadion sepakbola? Omong kosong! Aku ini pencinta sepi. Tentu, seperti aku, ia bermukim di tempat paling hening. Mungkinkah ia ada di langit sana, tertidur dalam bangkai pesawat antariksa?

       Suatu malam, ketika mengaduk-aduk lemari buku, kutemukan kitab lusuh yang selama ini tak terbaca. Ada selarik kalimat di sana: ”Masukilah dirimu! Dalam batin manusia bersemayam kebenaran.” Aha! Samadi! Samadi! Aku harus bersamadi. Dengan samadi aku bukan lagi patung jerami! Dalam ceruk dingin di lubuk jiwaku, aku akan terjun menjemput diriku. Eureka! Eureka!

                                                ***

       “Nestor!” kupanggil pembantuku. 
       “Sahaya, Tuan.”

 “Kini kau tak perlu lagi mengurus diriku. Hari ini kau pensiun.”

       “Pensiun?” lelaki tua bermata satu itu tersentak. Matanya tiba-tiba basah, memelas. Cengeng! “Tapi, Tuan,” katanya, “aku ingin mengabdi padamu sampai nanti, sampai mati. Tak ada yang kuharapkan, selain menjalani masa tua bersama Tuan. Tanpa Tuan, Nestor bukanlah Nestor. O, katakan, Tuan! Apakah pelayananku mengecewakan?”

       Aku menepuk pundaknya dan berkata, “Di dunia ini, Nestor, takkan kujumpai pembantu yang begitu jujur, begitu setia, begitu cerdas, begitu cekatan seperti kamu! Nestor … adalah abdi sejati. Dan Nestor … cuma satu.”

       “Kalau begitu,” katanya, ”izinkan aku bersamamu. Aku akan menjaga Tuan, merawat dan melindungi Tuan. Tuan tak usah mengupahku. Nestor sedikit makan. Nestor bukan beban.”

       “Tapi aku ingin sendiri.”

       “Tuan, aku mencintaimu.”

       “Tapi aku lelah jadi majikanmu!” kataku, keras, hampir teriak. “Dan tidakkah kau jemu seumur hidup menjadi pembantu?”

       Pundak Nestor berguncang. Ia tersedu. Kukunya mencakar ujung baju. Kutatap wajahnya dengan tatap hampa.

       “Kapan aku harus pergi, Tuan?”

       “Sekarang saja. Bagaimana?” Kusodorkan amplop gemuk. “Pesangonmu. Hitunglah. Bilang kalau kurang.” 
       Nestor menerima amplop itu dan, tanpa menghitung, menyusupkannya ke saku rompi. Dengan tenang ia mendaki tangga menuju kamarnya di loteng.

       Lima menit kemudian ia turun menjinjing kopor. Ia tidak ganti baju. Ia hanya melapisi rompi kerjanya dengan mantel hitam. Kuantar dia ke ambang pintu. Ia mengucap selamat tinggal lalu memasang topi pandan pada kepalanya yang botak di tengah. Aku mengangguk pelan dan berusaha tak melihat matanya.

       Kupandang tubuh jangkung itu berjalan menuju pagar. Langkah sepatunya menimbulkan suara srak-srek pada rerumputan kering di pekarangan. Aku tak tahu ke mana ia pergi. Mungkin ia kembali ke rumah boneka, di mana aku, pada malam Rabu 30 tahun lalu, membeli dan membawanya pulang dalam bagasi mobil.

       Nestor pergi. Rumah sepi. Cocok untuk samadi. Pagar, tingkap dan pintu kukunci rapat. Kusetel sistem alarm. Aku menyingkir ke kamar loteng, duduk bersila, dan dalam kepalaku bergaung mantra-mantra. Lampu kupadamkan. AC kusetel pada 18 derajat Celsius. Kamar kuberi aroma kembang melati. Senapan telanjang kutaruh di atas ranjang. Siapa tahu ada maling dan garong nekat bakal mengganggu samadi.

       Pagi samadi. Siang samadi. Petang samadi. Malam samadi. Tanpa tidur. Tanpa kopi. Tanpa supermi. Tenang, tenang, tenang. Hening, hening, hening. Kosong, kosong, kosong. Datang, ayo datang diriku yang hilang, ke sini, ke serambi jantungku. Tunggu! Kenapa lari ke lorong gua itu? Awas! Banyak karang tajam. Jahanam! Kenapa kau terus lari ke labirin kelam itu? Awas! Kukejar kau! Kuterkam kau! Kuhajar kau!

       Aku lari lari lari, memburu dia. Tapi aku lelah, haus, lapar, ngantuk oleh samadi 40 hari. Aku rubuh, terjerembab, terpuruk di sudut kamar. Aku marah. Aku bangkit. Lampu kunyalakan. Dalam cermin masih saja kulihat si patung jerami. Setan! Kubedah kulkas dan seperti burung nazar aku berlutut mengganyang es krim, puding, wortel, tomat, yogurt, terasi, cabe, kepiting goreng. Makan! Minum! Mari berpesta!

       Di luar angin menggeram, menampar daun pohon-pohon. Kudengar brang-breng atap seng. Kudengar … kudengar tok-tok pada daun jendela. Dia datang! Akhirnya dia datang! Kukuak jendela. Kusibak pintu. Ternyata cuma seekor burung jalak hitam kesasar yang menubruk jendela. Ia terkulai pada lantai teras loteng. Paruhnya, hidungnya, berdarah.

       Baiklah, aku kalah. Kuhentikan saja perburuan ini. Biar. Aku tak berkeberatan jadi patung jerami. Tak apa. Esok, mungkin, aku mendaftar ke panti wreda. Tapi aku capek, lunglai. Aku mau tidur dulu. Ya. Tidur.

       Sial! Aku tak bisa memejamkan mata. Selalu bila aku terlena dan hampir lelap, jam, alarm, bahkan telepon rusak itu berdering tiada henti. Radio, televisi, dan pemutar CD menggonggong, memuntahkan lagu cinta murahan dari segala zaman. Meski telah kumatikan arus listrik di rumahku, benda-benda terkutuk itu tetap melolong. Ketika kubuang dan kubakar di bak sampah, arwah piranti elektronik itu bangkit dan hijrah ke dalam jasadku, berenang di sungai darah di pembuluh nadiku dan akhirnya memainkan, di dalam otakku, lagu-lagu paling goblok yang pernah kudengar sepanjang hidupku. Ampun!

       Insomnia! Insomnia! Aku manusia insomnia. Malamku adalah malam insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia…insomnia. Ibu! Di mana pun kini kau berada, datanglah padaku! Nyanyikan lagi nina bobok itu! Aku tua. Aku letih. Aku ingin nyenyak seperti dulu dalam timangmu. Ibuuuu! Dalam insomnia kupanggil namamu.

                                                 ***

        Rabu pukul sembilan pagi, di depan meja informasi sebuah panti wreda, perawat itu, tanpa melihat mataku, bertanya:

       “Nama?”

 “Karioka…Lobo Karioka.”

       “Umur?”

       “Tujuh puluh tahun.Tapi bila ditambah malam-malam insomnia itu….”

       “Alamat anak-anakmu?”

 “Ini. Catatlah!” kuberikan padanya buku alamat.

       “Penyakit khusus?”

       Nah! Ini pertanyaan yang kutunggu-tunggu! “Insomnia!” kataku, penuh gelora. Aku senang ada orang menanyakan penyakitku.

       “Tuan Lobo Karioka, Tuan Insomnia, selamat datang di Griya Senja. Kami semua akan menyayangi Tuan Insomnia, Tuan Lobo Karioka.”

       Perawat muda dan segar itu, ternyata gadis budiman. Ia meraih koporku. “Kutunjukkan kamarmu,” katanya. “Mari!”

       Aku berjalan tertatih-tatih seperti boneka. Aku berjalan di sisi perawat itu. Kami berjalan menuju kamar di ujung koridor: alamku, duniaku yang baru. Mendengar ketepak-ketepok sepatuku, aku teringat gemersik sepatu Nestor yang menyaruk-nyaruk halaman rumput saat meninggalkan rumahku senja itu….

                                                  ***

       “Tuan Karioka!” perawat memanggilku. “Sudah tengah malam, Tuan Karioka! Tidurlah!”

       Kukatakan padanya aku segera ke kamar. “Seusai memandang bulan!” kataku.

                                                 ***

       Damai di panti wreda. Damai di Griya Senja. Opa-opa dan oma-oma sudah tidur semua. Tapi patung jerami itu, Tuan Insomnia itu, masih duduk di bandulan, memandang bulan di atas taman. “Barangkali,” pikirnya, “di bulan aku bisa tidur.” Maka disobeknya dua helai kertas surat, dan dilipatnya jadi sebuah sampan dan sepasang dayung sampan….

       “Tuan Karioka!” perawat memanggilnya. “Mau ke mana, Tuan Karioka?”

       “Ke langit, Nak! Ke bulan!” katanya.

       Seorang patung jerami, seorang insomnia, seorang opa berlayar di antariksa, mendayung sampan, menuju bulan. 

                                                   ***

15
Mar

Fantasi di Pizza Hut

Valse2005_5

       Siang itu, diburu oleh rasa lapar, Jaka Tarub, seorang salesman asuransi, mengungsi ke  sebuah kedai  pizza. Salah seorang pelayan kedai itu, ternyata, bukan manusia, tapi Nawang Wulan: seorang bidadari yang terdampar di Jakarta, yang terpaksa bekerja sebagai waitress, tekun mengumpulkan duit untuk mudik ke kahyangan. Pesona Nawang Wulan menjerat Tarub. Tak setiap hari Jakarta dikunjungi bidadari. Seraya menanti datangnya penganan yang ia pesan, Tarub berkhayal yang bukan-bukan:    

       Seorang lelaki duduk bersila di emperan sebuah restoran Pizza Hut di Jakarta. Di lehernya tergantung sebuah poster: “Jual cinta. Cinta panjang Rp 25.000. Cinta pendek Rp 15.000.” Matanya terpejam. Jemarinya, yang berkuku bersih-tajam, menggapai-gapai kaki orang yang lewat tak perduli.

       Siang gerah. Angin terik memanggang kulit wajah orang-orang. Sudah dua jam lelaki itu bercokol di situ tapi tak seorang pun menaruh minat padanya, bahkan setelah di lehernya ia kemudian mengalungkan sebuah poster baru yang membanting harga: “Saya salesman cinta. Saya jual cinta. Cinta 1 jam cuma-cuma. Cinta 2 jam suka-suka.” 

       Para tamu Pizza Hut mungkin tak paham apa yang dimaksud lelaki itu dengan kata “cinta”, baik yang 1 jam maupun yang 2 jam. Atau, sebenarnya mereka mengerti, tetapi mereka takut tampak begitu putus asa sampai-sampai harus berjajan cinta pada emperan sebuah kedai pizza.

       Lelaki itu jengkel. Ia mengupas busananya, hingga tinggal cawat saja. Ke dalam Pizza Hut ia datang, menjajakan tubuhnya yang 3/4 telanjang. Tubuh itu proporsional. Mungkin ia bekas peragawan.

       “Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya, hari ini saya lelang tubuh saya. Saya akan serahkan tubuh saya satu malam pada si penawar tertinggi. Lelang dimulai!”

       Tamu-tamu melongo sebentar lalu bercakap-cakap kembali atau mengunyah pizza.  Seperti tak terjadi apa-apa.   

       “Mengapa kalian diam saja? Tengok tubuh saya! Beli tubuh saya!”

       Tamu-tamu naik pitam.

       “Kami tidak ngiler melihat tubuh kamu, goblok!”

       “Biarkan kami makan siang dengan tenang.”

       “Kami ingin pizza, bukan gigolo!”

       Salah seorang tamu bergegas mencari satpam atau satpol pamong praja. Tapi ia dicegah oleh seorang perempuan pelayan.

       “Tunggu!” katanya. “Serahkan lelaki itu kepada saya.”

       Ia melambai kepada operator musik:

       “Bung, tolong putar musik jaipong untuk kami!”

       Musik jaipong mengisi restoran. Perempuan itu tersenyum. Ia riang. Ia melambungkan secarik serbet ke angkasa. Serbet itu hinggap menjuntai pada lampu gantung. Ia menggamit tangan si lelaki penjual tubuh dan berkata kepadanya:

       “Mari kita menari jaipong.”

       “Maaf, Nona, aku tak bisa.” 

       “Izinkan aku mengajarimu.”

       Dua manusia ngibing jaipong. Si perempuan lincah. Si lelaki canggung, terhuyung-huyung, beberapa kali hampir tersungkur. Tapi sepasang tubuh itu lekas lupa pada jaipong dan mulai melenggang menurut dentam-dentam kendang yang ada di jantung mereka sendiri. Mereka kasurupan. Penari perempuan meraih sebuah botol tabasco. Ia melumuri kening penari lelaki dengan tabasco. Dikecupnya kening itu dengan khusyuk dan khidmat. 

       “Lelaki, kau lebih hidup dari pizza.”

       “Perempuan, kau lebih sakti dari lelaki. Pungut tubuhku, jadikan milikmu.”

       “Tapi aku fakir. Upahku bahkan tak cukup untuk ongkos bajaj dan metromini ke kahyangan.”

       “Demi kamu, aku akan berjuang untuk jadi orang kaya. Bawa aku bersamamu.”

       “Baik, kamu kuadopsi.” 

       Petang itu mereka nikah. Mereka bersukacita, meski perempuan itu kontan dipecat oleh manajernya, yang menuduhnya asusila. Mereka mahabahagia, meski tubuh lelaki itu luka-luka, setelah para pengunjung kedai pizza itu menyerangnya, dengan lontaran asbak, piring, sendok, garpu, dan pisau.

                      Fragmen cerpen Sony Karsono, "Melankolia", Karya Darma, April 1997.

15
Mar

Siti Sundari

Ramarama

          Baru pada 1984, pada usia 13, buat pertama kali dalam hidup saya, saya jatuh hati. Di sana, di SMP "Merah Delima", Jl. "Danau Angsa", Pejompongan, Jakarta Pusat, saya, seorang murid kelas 1, berjumpa dengan gadis paling jelita di jagat raya. Dia Siti Sundari. Selain menjabat ketua kelas 1-C, ia juga aktivis Palang Merah Remaja sekolah kami. Kulitnya putih-pualam. Matanya coklat muda, tak bercela. Rambutnya panjang, kerap dikepang, tapi pernah juga dibiarkan merdeka: berkibar-kibar bersama angin kemarau, seperti pada suatu siang, ketika ia naik metromini, duduk dekat jendela kaca, menerawang pemandangan jalan raya kota.

          Saban kali kami berpapasan di koridor depan deretan ruang kelas; saban kali kami duduk berdampingan di Ruang Guru, tempat Kepala Sekolah menghimpun kami para ketua kelas untuk aneka pengumuman resmi; diam-diam saya meninjau garis-garis wajahnya, kemerlap matanya, dan serat-serat rambutnya yang coklat-hitam. Maka, jantung saya berkelejat, laju darah di pembuluh nadi saya tersendat, dan paru-paru saya kejang tiba-tiba.

          Saya jadi gemar melamun. Jika saya berbaring di ranjang di tengah sunyi malam, maka bayang senyumnya, gerak-gerik tubuhnya, dan wangi rambutnya nongol berkibar-kibar menghantui jiwa saya.

Kehadiran Siti Sundari di sekolah kami membuat masa remaja saya menjadi sensitif, merana, tapi ajaib. Ia menjadi pusat alam saya. Saya selalu ingin menafsir Siti Sundari: membaca senyumnya, memetakan kebun bunga di matanya, dan diam-diam menyaksikannya bertanding di lapangan voli dan basket. (Ia begitu sehat, cepat, dan cekatan, bagai sebilah belati yang elok dan sabar.) Dan ketika saya tahu ia gandrung pada The Beatles, saya pun belajar mencerna  dan mencintai lagu-lagu tua komplotan musik pop dan rock asal Liverpool itu.

Bahkan setelah setahun kami berguru di sekolah yang sama, saya masih terlalu pengecut untuk berkenalan dengan Siti Sundari. Jangankan berkenalan. Berada di dekatnya saja tubuh saya luluh. Maka, saya selalu berhati-hati menjaga jarak ideal antara tubuh saya dan tubuhnya: cukup dekat bagi saya untuk mengamati dia dengan kentara, cukup jauh bagi jantung saya untuk menahan gelombang "radiasi" dari tubuhnya.

Diam-diam saya belajar  berbahagia dengan sekadar melacak jejak-jejak Siti Sundari di dunia, misalnya dengan mengunjungi gambar-gambar dan tempat-tempat yang membersitkan kehadirannya.

Mula-mula, saya belajar berbahagia dengan telentang merebahkan diri pada ranjang di tengah senyap malam, berbantal kedua lengan, melamun, menatap jaring laba-laba di plafon kamar, sambil mengenang sosok Siti Sundari di sebuah foto yang pernah saya lihat siang hari pada papan informasi sekolah: sosok Siti Sundari yang sedang berjabat tangan dengan presiden Indonesia, pada perayaan Hari Anak Nasional di Balai Sidang Senayan.

Namun, lambat laun, saya butuh citra Siti Sundari yang lebih konkret. Saya jemu merenungkan bayang-bayang Siti Sundari yang berkelebat dalam relung kepala tatkala saya melamunkannya. Maka, tanpa bakat senirupa, dengan hanya mengandalkan seberkas ingatan dan sebatang pensil Staedtler Mars Lumograph 100 2B, saya bersikeras memindahkan wajah Siti Sundari di khayal saya menjadi wajah Siti Sundari di kertas gambar. Setelah rampung, saya bawa serta gambar itu ke mana pun saya pergi, seperti jimat. Saya renungi gambar itu di kamar saban malam. Saya melamunkan dirinya lama-lama, sambil memanggil namanya pelan-pelan, sampai saya mengantuk. Sebelum tidur, saya selalu menaruh gambar Siti Sundari di bawah bantal.

Bagaimanapun, saya kecewa juga dengan gambar pensil itu. Gambar itu gagal menyerupai sosok asli Siti Sundari. Maka, dengan memanfaatkan posisi saya sebagai ketua kelas, saya mengembat pasfoto Siti Sundari. Pada suatu senja, ketika pelajaran sedang berlangsung di kelas, saya ngacir ke Ruang Tata Usaha. Saya berdusta kepada petugas arsip di sana, “Saya disuruh Wali Kelas 1-D untuk melacak siswa-siswa yang layak dicalonkan jadi penerima beasiswa. Yakni mereka yang miskin tapi berprestasi tinggi.” Ia mencaplok dusta saya. Maka, dengan leluasa, saya membaca-baca stamboek, sampai saya temukan biodata dan pasfoto Siti Sundari. Biodata Siti Sundari saya salin ke buku catatan, sedangkan fotonya saya "sikat" lalu saya bawa ke tukang foto untuk direproduksi.

Di samping itu, dengan sekadar tahu letak rumah Siti Sundari, saya bisa berbahagia. Pada sebuah senja bulan September yang diberkati dewa-dewa, sehabis 6 jam suntuk belajar di sekolah, dengan lagak kikuk seorang detektif remaja, saya membuntuti Siti Sundari yang pulang berjalan kaki di sepanjang trotoar basah di tepi barat Jl. Raya Bendungan Hilir sehabis hujan gerimis.  Di atas kepala: mendung ungu.  Di  langit  barat:  mega jingga. Di pohon-pohon: wangi tetes hujan. Di hati saya: rasa malu, rasa tiada berdaya, dan satu teka-teki: Mengapa saya butuh dia? Mengapa, di depan kesaktiannya, jiwa saya bertekuk lutut? 

Akhirnya, saya tahu tempat ia tinggal: sebuah rumah besar-kekar di Jl. Bendungan Hilir III. Sepasang pohon siwalan menjulang di halaman, tegak membidik langit Jakarta. Sebongkah Mercedes antik mendekam di depan garasi. Dengan mengerahkan mata saya laksana kamera, detil-detil pemandangan rumah Siti Sundari saya serap dan saya rekam di otak saya. Saya berkhayal: Andai ia kelak mengundang saya bercakap berdua, di ruang tamu itu, pada suatu malam Minggu. Mungkin saya akan semaput, tak kuasa menanggung sukacita.

15
Mar

Lokomotif Tua, Pohon Kering, Langit Senja

Cepu02004_3

                                Tepi Hutan Cepu, 2004. Foto oleh Rob Dickinson.

          Foto di atas punya kisah:

          Lokomotif tua itu berjalan lamban, menyela sunyi di jalan debu tanpa aspal. Pohon kering itu, yang sepanjang siang melamun di tepi jalan, menyapanya:

          "Kangmas Lokomotif Tua mau ke mana?"

          "O, Nimas Pohon Kering, saya menjemput panen tebu di hutan pinggir, di kebun terakhir. Mau ikut?"

          "Terima kasih, Kangmas. Lain kali saja. Saya ingin duduk sendiri di sini, meniup seruling, menanti datangnya pacar saya: Si Langit Senja."




September 2008
M T W T F S S
« Mar    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Months