INSOMNIA
Sony Karsono, Kompas, 7 Januari 1996
Empat puluh tahun lalu dalam etalase butik kulihat boneka cantik dari plastik. Ia mengenakan gaun putih pengantin salju. Ia berseru, “Hei! Menikahlah denganku!” Kala itu aku sudah punya ijazah, kerja dan rumah. “Mungkin,” pikirku, “sudah waktunya aku berumah tangga.” Maka, boneka itu kubeli dan kubawa pulang naik taksi. Kami menikah dan punya tiga anak. Karena istriku bijaksana, aku lupa bahwa ia hanya boneka dan bahwa anak-anak kami adalah makhluk separuh boneka separuh manusia.
Kata handai-tolan (dulu aku pernah punya handai-tolan), kami memang pasangan damai dan setia, seperti suami-istri dalam brosur iklan asuransi jiwa. Aku tak pernah menghardik istriku. Dia tak pernah mengumpat aku. Hari-hari pergi tanpa suara. Rumah selalu tenang, teramat tenang. Tapi pada ulang tahun perkawinan ke-39, kami sadar bahwa semua itu cuma kebiasaan, yang rapi dan saksama, bahkan begitu sempurna hingga kami mati rasa.
“Kita ini dua pecatur ulung,” ujar istriku pada suatu senja saat kami duduk di beranda menatap kosong pada cangkir kosong dan remah-remah biskuit di atas meja. “Pecatur ulung selalu dingin, waspada, jarang bicara. Bila turnamen berakhir, yang tinggal cuma rahasia.”
Tiga bulan kemudian dengan sentosa istriku meninggal dunia. Ia menutup wajahnya dengan sapu tangan ungu dan menggumam:
“Lupakan aku.” Bibirnya goyang di bawah sapu tangan ungu.
“Ya,” sahutku. Aku berpikir, “Betapa bijaksana istriku!”
Sayang, anak-anak tak sebijak ibunya. Mereka takut disangka durhaka kalau pada suatu hari nanti aku dibikin gila oleh sepi.
Dari negeri asing, Simba, Mufasa dan Rafiki masih gencar menelepon, cuma untuk bilang, “Apa kabar, Papa?” Dan surat mereka berjejal di kotak pos, bersama telegram, kartu Lebaran dan ucapan selamat ulang tahun. Tapi aku tak punya tenaga untuk membaca. Maka kubiarkan kertas-kertas itu lembab, menguning, berjamur. Dan aku merasa lega ketika telepon di rumah rusak, karena kabelnya remuk diunggis tikus-tikus. Aku merasa teduh seusai menulis sepucuk surat pamit kepada anak dan cucu.
Simba, Mufasa dan Rafiki tercinta. Jangan bersurat pada Papa. Jangan pula menelepon. Papa ingin mundur ke dalam sunyi. Seperti sunyi yang kini mendekap Mama. Peluk sayang buat semua cucu. Semoga cepat besar dan pergi ke galaksi di luar Bimasakti. Usah risau akan Papa. Karena, seperti biasa, “Tiada kabar, berarti kabar baik.”
Duh Gusti! Aku kian tua. Istri pergi. Anak merantau ke tepi benua. Tapi sungguh aku tak kesepian. Aku sehat. Aku kuat. Aku ampuh. Aku riuh. Aku riang. Aku gemilang! Aku… aku resah.
Aku resah. Bila bangun pagi aku tak sanggup beranjak dari ranjang untuk mematikan weker yang berdering. Aku pun lupa siapa namaku. Aku bagai patung jerami terpaku di tengah sawah, dipatuki burung-burung jelantik. Aku merasa tak pernah hidup. Aku tersedot pusaran mimpi murung tentang rumah tangga, tentang kerja! kerja! kerja! Saat aku terjaga—amboi—semua sudah terlambat. Fajar dan siang telah lenyap digondol gagak-gagak. Dalam temaram senjakala, aku si patung jerami tergolek patah di pematang sawah. Azan magrib berkumandang di kejauhan….
Ke mana harus kucari, kucuri, diriku yang hilang? Pada bundar kue Marie? Pada perempuan muda di kedai kopi? Atau dalam bilik doa panti wreda?
Aha! Temui saja Paman Hanafi! Paman Hanafi sang pencinta alam, yang pernah membuang play station-ku ke dalam api tungku. Lalu ditenungnya aku menjadi bocah pengelana: Hanafi kecil! Dibawanya aku ke gunung merenungi pelangi yang terbit dari tirai air terjun. Ditunjukkannya kepadaku kelebat jembalang hutan pada puing-puing candi di lereng Gunung Penanggungan. Ketika haus kami biasa menghisap butir-butir embun di ketiak daun-daun. Kami pernah melihat seekor jalak hitam raksasa terbang memotong bulan di atas rawa. Satu kuntilanak bijak pernah mengajar kami melukis warna mega pada kanvas langit magrib dengan sebatang kuas ilalang.
“Lekas!” katanya. “Lukis rona mega dengan sapuan darahmu, darahku, darah kita. Agar darah kita, darah rimba, darah mega jadi senyawa!”
Tapi Paman Hanafi sudah mati. Hutan kami kini sudah gosong terbakar setelah lama dibabati manusia-manusia gergaji. Aku terlalu jompo untuk luntang-lantung ke hutan mana pun. Jantungku teler. Paruku susut. Tulangku segetas kerupuk. Kalaupun nanti aku mati, kuingin mati diam-diam, tanpa onar, tanpa kabar di koran: “Seorang opa ditemukan membeku di belantara….”
Lebih baik sabar menunggu di ruang tamu. Suatu malam pintu akan diketuk orang. Barangkali akan terjadi adegan ini:
“Tok…tok…tok…,” terdengar ketukan lirih.
“Si-siapa?”
“Aku…dirimu. Aku pulang.”
Kubuka daun pintu. Sang tamu kupeluk erat. Ia menyelinap ke dalam ragaku. Dan aku kembali menjadi manusia, bukan lagi patung jerami.
Namun, adegan itu tak pernah terjadi. Tamu itu tak pernah datang. Tidak, aku tak boleh putus asa. Tentu ada lain cara. Tak cukup dengan menanti. Aku harus mengintai, melacak, memburu, dan menangkap diriku yang hilang itu bulat-bulat. Tapi di mana? Di klub karaoke? Tak mungkin! Di lobi bandar udara? Atau di lautan penonton histeris dalam stadion sepakbola? Omong kosong! Aku ini pencinta sepi. Tentu, seperti aku, ia bermukim di tempat paling hening. Mungkinkah ia ada di langit sana, tertidur dalam bangkai pesawat antariksa?
Suatu malam, ketika mengaduk-aduk lemari buku, kutemukan kitab lusuh yang selama ini tak terbaca. Ada selarik kalimat di sana: ”Masukilah dirimu! Dalam batin manusia bersemayam kebenaran.” Aha! Samadi! Samadi! Aku harus bersamadi. Dengan samadi aku bukan lagi patung jerami! Dalam ceruk dingin di lubuk jiwaku, aku akan terjun menjemput diriku. Eureka! Eureka!
***
“Nestor!” kupanggil pembantuku.
“Sahaya, Tuan.”
“Kini kau tak perlu lagi mengurus diriku. Hari ini kau pensiun.”
“Pensiun?” lelaki tua bermata satu itu tersentak. Matanya tiba-tiba basah, memelas. Cengeng! “Tapi, Tuan,” katanya, “aku ingin mengabdi padamu sampai nanti, sampai mati. Tak ada yang kuharapkan, selain menjalani masa tua bersama Tuan. Tanpa Tuan, Nestor bukanlah Nestor. O, katakan, Tuan! Apakah pelayananku mengecewakan?”
Aku menepuk pundaknya dan berkata, “Di dunia ini, Nestor, takkan kujumpai pembantu yang begitu jujur, begitu setia, begitu cerdas, begitu cekatan seperti kamu! Nestor … adalah abdi sejati. Dan Nestor … cuma satu.”
“Kalau begitu,” katanya, ”izinkan aku bersamamu. Aku akan menjaga Tuan, merawat dan melindungi Tuan. Tuan tak usah mengupahku. Nestor sedikit makan. Nestor bukan beban.”
“Tapi aku ingin sendiri.”
“Tuan, aku mencintaimu.”
“Tapi aku lelah jadi majikanmu!” kataku, keras, hampir teriak. “Dan tidakkah kau jemu seumur hidup menjadi pembantu?”
Pundak Nestor berguncang. Ia tersedu. Kukunya mencakar ujung baju. Kutatap wajahnya dengan tatap hampa.
“Kapan aku harus pergi, Tuan?”
“Sekarang saja. Bagaimana?” Kusodorkan amplop gemuk. “Pesangonmu. Hitunglah. Bilang kalau kurang.”
Nestor menerima amplop itu dan, tanpa menghitung, menyusupkannya ke saku rompi. Dengan tenang ia mendaki tangga menuju kamarnya di loteng.
Lima menit kemudian ia turun menjinjing kopor. Ia tidak ganti baju. Ia hanya melapisi rompi kerjanya dengan mantel hitam. Kuantar dia ke ambang pintu. Ia mengucap selamat tinggal lalu memasang topi pandan pada kepalanya yang botak di tengah. Aku mengangguk pelan dan berusaha tak melihat matanya.
Kupandang tubuh jangkung itu berjalan menuju pagar. Langkah sepatunya menimbulkan suara srak-srek pada rerumputan kering di pekarangan. Aku tak tahu ke mana ia pergi. Mungkin ia kembali ke rumah boneka, di mana aku, pada malam Rabu 30 tahun lalu, membeli dan membawanya pulang dalam bagasi mobil.
Nestor pergi. Rumah sepi. Cocok untuk samadi. Pagar, tingkap dan pintu kukunci rapat. Kusetel sistem alarm. Aku menyingkir ke kamar loteng, duduk bersila, dan dalam kepalaku bergaung mantra-mantra. Lampu kupadamkan. AC kusetel pada 18 derajat Celsius. Kamar kuberi aroma kembang melati. Senapan telanjang kutaruh di atas ranjang. Siapa tahu ada maling dan garong nekat bakal mengganggu samadi.
Pagi samadi. Siang samadi. Petang samadi. Malam samadi. Tanpa tidur. Tanpa kopi. Tanpa supermi. Tenang, tenang, tenang. Hening, hening, hening. Kosong, kosong, kosong. Datang, ayo datang diriku yang hilang, ke sini, ke serambi jantungku. Tunggu! Kenapa lari ke lorong gua itu? Awas! Banyak karang tajam. Jahanam! Kenapa kau terus lari ke labirin kelam itu? Awas! Kukejar kau! Kuterkam kau! Kuhajar kau!
Aku lari lari lari, memburu dia. Tapi aku lelah, haus, lapar, ngantuk oleh samadi 40 hari. Aku rubuh, terjerembab, terpuruk di sudut kamar. Aku marah. Aku bangkit. Lampu kunyalakan. Dalam cermin masih saja kulihat si patung jerami. Setan! Kubedah kulkas dan seperti burung nazar aku berlutut mengganyang es krim, puding, wortel, tomat, yogurt, terasi, cabe, kepiting goreng. Makan! Minum! Mari berpesta!
Di luar angin menggeram, menampar daun pohon-pohon. Kudengar brang-breng atap seng. Kudengar … kudengar tok-tok pada daun jendela. Dia datang! Akhirnya dia datang! Kukuak jendela. Kusibak pintu. Ternyata cuma seekor burung jalak hitam kesasar yang menubruk jendela. Ia terkulai pada lantai teras loteng. Paruhnya, hidungnya, berdarah.
Baiklah, aku kalah. Kuhentikan saja perburuan ini. Biar. Aku tak berkeberatan jadi patung jerami. Tak apa. Esok, mungkin, aku mendaftar ke panti wreda. Tapi aku capek, lunglai. Aku mau tidur dulu. Ya. Tidur.
Sial! Aku tak bisa memejamkan mata. Selalu bila aku terlena dan hampir lelap, jam, alarm, bahkan telepon rusak itu berdering tiada henti. Radio, televisi, dan pemutar CD menggonggong, memuntahkan lagu cinta murahan dari segala zaman. Meski telah kumatikan arus listrik di rumahku, benda-benda terkutuk itu tetap melolong. Ketika kubuang dan kubakar di bak sampah, arwah piranti elektronik itu bangkit dan hijrah ke dalam jasadku, berenang di sungai darah di pembuluh nadiku dan akhirnya memainkan, di dalam otakku, lagu-lagu paling goblok yang pernah kudengar sepanjang hidupku. Ampun!
Insomnia! Insomnia! Aku manusia insomnia. Malamku adalah malam insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia, insomnia…insomnia. Ibu! Di mana pun kini kau berada, datanglah padaku! Nyanyikan lagi nina bobok itu! Aku tua. Aku letih. Aku ingin nyenyak seperti dulu dalam timangmu. Ibuuuu! Dalam insomnia kupanggil namamu.
***
Rabu pukul sembilan pagi, di depan meja informasi sebuah panti wreda, perawat itu, tanpa melihat mataku, bertanya:
“Nama?”
“Karioka…Lobo Karioka.”
“Umur?”
“Tujuh puluh tahun.Tapi bila ditambah malam-malam insomnia itu….”
“Alamat anak-anakmu?”
“Ini. Catatlah!” kuberikan padanya buku alamat.
“Penyakit khusus?”
Nah! Ini pertanyaan yang kutunggu-tunggu! “Insomnia!” kataku, penuh gelora. Aku senang ada orang menanyakan penyakitku.
“Tuan Lobo Karioka, Tuan Insomnia, selamat datang di Griya Senja. Kami semua akan menyayangi Tuan Insomnia, Tuan Lobo Karioka.”
Perawat muda dan segar itu, ternyata gadis budiman. Ia meraih koporku. “Kutunjukkan kamarmu,” katanya. “Mari!”
Aku berjalan tertatih-tatih seperti boneka. Aku berjalan di sisi perawat itu. Kami berjalan menuju kamar di ujung koridor: alamku, duniaku yang baru. Mendengar ketepak-ketepok sepatuku, aku teringat gemersik sepatu Nestor yang menyaruk-nyaruk halaman rumput saat meninggalkan rumahku senja itu….
***
“Tuan Karioka!” perawat memanggilku. “Sudah tengah malam, Tuan Karioka! Tidurlah!”
Kukatakan padanya aku segera ke kamar. “Seusai memandang bulan!” kataku.
***
Damai di panti wreda. Damai di Griya Senja. Opa-opa dan oma-oma sudah tidur semua. Tapi patung jerami itu, Tuan Insomnia itu, masih duduk di bandulan, memandang bulan di atas taman. “Barangkali,” pikirnya, “di bulan aku bisa tidur.” Maka disobeknya dua helai kertas surat, dan dilipatnya jadi sebuah sampan dan sepasang dayung sampan….
“Tuan Karioka!” perawat memanggilnya. “Mau ke mana, Tuan Karioka?”
“Ke langit, Nak! Ke bulan!” katanya.
Seorang patung jerami, seorang insomnia, seorang opa berlayar di antariksa, mendayung sampan, menuju bulan.
***


